banner
dosen

ESENSI HARI GURU NASIONAL DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Serpongupdate.com – Pada tanggal 25 November 2020 merupakan lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) atau diperingati sebagai Hari Guru Nasional.

Pada tahun 2020, perayaan Hari Guru berbeda dari tahun sebelumnya dikarenakan pandemi Covid-19. sehingga tidak ada lagi kegiatan upacara bendera atau merayakannya di sekolah. Meskipun tidak ada perayaan, namun esensi hari guru di tengah pandemi Covid-19 tetap bermakna atas perjuang para guru-guru yang tak pernah letih mencerdaskan anak bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD 1945.

Jika tenaga medis sebagai garda terdepan dalam pananganan pandemi Covid-19. Maka guru sebagai garda terdepan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, walau apapun permasalahan yang menimpa bangsa termasuk pandemi Covid-19.

Berbagai tantangan bagi guru untuk tetap memberikan pengajaran dan pendidikan di tengah pandemi Covid-19 sangatlah besar.Oleh karena itu, guru harus tetap berjuang menjadi sosok pahlawan tanpa tanda jasa.

Pandemi Covid-19 menjadi fenomena yang merubah pola tatanan kehidupan manusia, semua terkena imbasnya dari berbagai aspek, antara lain ekonomi, sosial, budaya, termasuk lembaga pendidikan yang mengalami transformasi penyesuaian dengan keadaan saat ini.

Dalam rangka memutus mata rantai peyebaran Covid-19 dalam proses mengajar tatap muka secara langsung di sekolah tidak bisa lagi dilakukan. Sebagaimana yang termaktub dalam Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid -19 dijelaskan bahwa proses pembelajaran dari rumah melalui pembelajaran daring untuk memberikan pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

Penyelenggaraan pendidikan di tengah pandemic Covid-19 masih terdapat banyak permasalahan. Data UNESCO menunjukkan sebanyak 191 negara melakukan penutupan sekolah, sehingga berdampak pada 1,6 miliar peserta didik dan lebih dari 63 juta guru di seluruh dunia merasakan dampak dari penutupan sekolah akibat pandemi Covid-19 (Republika.co.id, diakses 18 November 2020).

Tak terkecuali dengan pendidikan di Indonesia, berdasarkan data Kemendikbud terdapat 96,6 persen siswa belajar dari rumah, sedangkan 86,6 persen hanya mengerjakan tugas dari guru di rumah, hanya 38,8 persen guru yang berhasil menyelenggarakan pembelajaran interaktif, 53,55 persen guru kesulitan mengelola kelas selama PJJ, dan sebesar 49,24 persen guru terhambat melaksanakan asesmen selama PJJ (Kompas.com, diakses 18 November 2020).

Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa guru memiliki tantangan yang luar biasa dalam menyelanggarakan pendidikan di tengah pandemi Covid-19, namun tetap memperhatikan kualitas pembelajaran yang terbaik bagi peserta didik.

Pandemi Covid-19 memberikan pembelajaran berharga bagi guru untuk dapat beradaptasi dengan perubahan, guru yang gagap teknologi akan tertinggal oleh arus perubahan. Pandemi Covid-19 bukan hanya menuntut siswa untuk terus belajar, tetapi juga menuntut guru untuk terus belajar sehingga dapat memiliki keterampilan dalam menggunakan teknologi yang dapat mendukung proses pendidikan yang dapat berlangsung dimanapun dan kapanpun lewat kecanggihan teknologi.

Guru dapat menggunakan berbagai teknologi dalam pembelajaran, seperti menggunakan aplikasi Zoom, Google Classroom, Ruang Guru, E-Learning, Quipper, Rumah Belajar, dan sebagainya. Bahkan guru pun dapat menggunakan media sosial untuk proses pembelajaran seperti dengan menggunakan Whatsapp, Youtube, Facebook, dan sebagainya.

Dalam penggunaan teknologi tersebut menuntut guru untuk dapat memiliki kemampuan dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sehingga proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat tercapai secara optimal.  Namun sayangnya tidak semua guru dapat menggunakan teknologi dalam proses belajar mengajar.

Berdasarkan data Kemendikbud sebesar 48,45 persen guru masih sulit menggunakan teknologi selama PJJ (Kompas.com, diakses 18 November 2020). Data tersebut menandakan bahwa guru masih perlu banyak belajar dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Bagaimana dengan guru yang berada di 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal), apakah efisien pembelajaran daring diterapkan di sekolah tersebut? Tentunya untuk menjawab pertanyaannya tersebut kita dapat melihat realita sosial yang ada dilapangan.  Terdapat guru-guru yang berada di daerah yang tak terjamah teknologi, bahkan sinyal tidak masuk ke wilayah mereka. Kebanyakan siswa juga tidak memiliki teknologi maupun kouta pulsa internet dalam belajar.

Hal tersebut tidak mematahkan semangat guru untuk memberikan pengajaran kepada peserta didik, dengan sepenuh hati para guru mendatangi rumah peserta didik satu persatu, meskipun tindakan tersebut sangat beresiko terpapar virus corona bagi guru tersebut.

Masalah lainnya yang paling terdampak dari pandemi Covid-19 yaitu terkait dengan masalah kesejahteraan guru terutama para guru honorer. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020 terdapat 728.461 guru honorer di Indonesia (databoks.katadata.co.id, diakses 18 November 2020).

Disaat pandemi Covid-19 banyak orangtua murid yang tidak mampu membayar uang sekolah anaknya akibat terkena PHK, sehingga hal tersebut akan berkorelasi dengan pembayaran gaji para guru honor yang merasakan imbasnya.

Apalagi tuntutan belajar daring membutuhkan kouta internet yang besar, hal ini membuat pengeluaran tambahan yang harus dikeluarkan oleh guru. Hal inilah merupakan bentuk pengabdian guru yang tetap berjuang di tengah pandemi Covid-19 meskipun kesejahteraan guru cukup mengkhawatirkan.

Esensi Hari Guru Nasional di tengah pandemi Covid-19 menjadikan guru untuk tetap berjuang dan mengabdi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa meskipun banyak permasalahan yang dihadapi oleh guru.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Durkheim (Hidayat, 2014) pendidikan lahir dan hasil dari perjuangan untuk tetap memiliki fungsi bagi masyarakat. Di masa pandemi Covid-19 pendidikan akan terus berjuang untuk tetap hadir memenuhi kebutuhan masyarakat, disinilah peran guru sebagai garda terdepan, sehingga menjadikan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan perannya takkan pernah tergantikan dengan teknologi secanggih apapun.

Terima kasih atas jasa yang luar biasa dari bapak  dan Ibu guru untuk bangsa ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan keberkahan dan kesehatan. Semoga Covid- 19 cepat berakhir.  (Penulis : Aulia Nursyifa., S.Pd M.Pd,  Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pamulang)

Tags Related
You may also like
Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *