29 C
Tangerang Selatan
Minggu, 16 Mei 2021
Serpong Update
PROFILE

Sumarni, Sosok Motor Kebangkitan Para Ibu untuk Berdayakan ‘Aloe Vera’

Serpongupdate.com – Ada yang berbeda ketika memasuki pemukiman di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Jogjakarta. Sepanjang jalan pedesaan itu, berjejer banyak tumbuhan Aloe Vera, atau banyak disebut warga dengan tumbuhan Lidah Buaya. Kebun warga, ladang pertanian, hingga teras rumah warga dipenuhi dengan tanaman tersebut. Nampak asri, Desa Katongan pun kini terkenal dengan sebutan Desa Aloe Vera.

Tiap pekan, desa itu selalu ramai dengan kunjungan wisatawan atau instansi yang ingin studi banding, mempelajari tanaman syarat manfaat tersebut. Hijaunya Desa Nglipar dengan hamparan Aloe Vera tidak datang tiba-tiba, dan Sumarni (54), adalah sosok yang tepat untuk menuturkan sejarahnya.

“Dulu belum ada Lidah Buaya di desa kami, hingga awalnya anak saya mengenalkannya kepada saya,” begitu Sumarni memulai pembicaraan pada Sabtu (27/03).

Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari tumbuhan Aloe Vera, Sumarni pun bergegas mengajak ibu-ibu di desanya untuk ikut bersama membudidayakannya. Bukan tanpa alasan, Sumarni berangkat dari niat memberdayakan ibu-ibu di desanya untuk bisa mandiri secara ekonomi.

Seperti halnya desa lain di Gunung Kidul, Desa Katongan juga didominasi oleh persawahan tadah hujan. Alhasil para ibu-ibu tidak memiliki kegiatan selain membantu merawat sawah di kala musim penghujan. Selebihnya, mereka tidak memiliki kegiatan ekonomi, dan pemasukan.

“Di sini kan sawahnya tadah hujan mas, jadi ibu-ibu hanya bantu suaminya di sawah. Kalau musim kemarau ya sama sekali tidak ada kegiatan ekonomi, apalagi pemasukan,” tambah Sumarni.

Hingga pada tahun 2017, Sumarni dipertemukan dengan Dompet Dhuafa Yogyakarta. Melihat upaya pemberdayaan dari Sumarni, Dompet Dhuafa membantu pengembangan pembudidayaan Aloe Vera. Intervensi bantuan pun disalurkan.

Sebanyak 100 keluarga dari 7 RT di Desa Katongan mendapatkan bantuan berupa 50 benih Aloe Vera setiap keluarga. Sejak saat itu, tumbuhan aloevera mulai menghiasi setiap sudut rumah-rumah di desa tersebut. Karena tumbuh tak kenal musim, para ibu-ibu kini lebih produktif membudidayakan Aloe Vera.

“Dulu dapat bantuan sebanyak 50 benih Aloe Vera tiap keluarga, yang dapat 100 keluarga di desa ini mas. Jadi tiap rumah pasti ada Aloe Vera. Jadilah disitu desa ini dikenal jadi ‘Desa Aloe Vera’ mas,” tukas Sumarni.

Tidak hanya sampai pemberian benih, Dompet Dhuafa ikut serta menemani pengembangan produk terusan Aloe Vera di Desa Katongan. Melalui diskusi dan beberapa kali ujicoba, akhirnya produk minuman berbahan dasar Aloe Vera lahir.

Pengemasan yang dulu sederhana, kini dikemas dengan lebih menarik. Bahkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ikut serta membantu untuk meneliti produk, sehingga bisa awet lebih lama. Hingga akhirnya, kini rumah Sumarni selalu sibuk dengan produksi olahan Aloe Vera. Produk olahan tersebut laris manis hingga terdistribusi bukan hanya di Yogyakarta, namun juga di luar kota.

“Paling banyak dipesan orang untuk oleh-oleh, juga ada yang ruitin kirim di toko-toko, ada juga yang datang ke rumah langsung. Kami juga ada langganan di Jakarta,” jelas Sumarni.

Kini, Sumarni lebih sering menghabiskan waktunya di rumah, menyediakan pesanan produk olahan Aloe Vera yang terus datang. Bahkan kini, Sumarni sudah mempekerjakan setidaknya sembilan ibu-ibu di rumah produksi miliknya. Begitu pula dengan ratusan keluarga di desa tersebut yang memetik manfaat dari hijaunya Lidah Buaya. (Rls)

Berita Terkait

Leave a Comment