Serpongupdate.com — Kegiatan Srawung Pring digelar di Pasar Papringan, Dusun Ngadiprono, Temanggung, Minggu (23/11). Program ini dihadirkan untuk memperkenalkan budaya bambu secara lebih mendalam, termasuk makna dan nilai yang hidup di balik pemanfaatannya dalam keseharian masyarakat desa. Selama ini, bambu kerap diposisikan sebatas elemen visual oleh pengunjung Pasar Papringan, sehingga konteks budaya dan pengetahuannya kurang tersampaikan.
Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman, Srawung Pring mengajak peserta memahami relasi bambu dengan lingkungan, aktivitas sosial, dan tradisi masyarakat Ngadiprono. Program ini merupakan kolaborasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Spedagi Movement dalam mendorong pemberdayaan lokal berbasis pengetahuan tradisional.
Rangkaian kegiatan diikuti peserta dari berbagai latar belakang dan dirancang secara partisipatif. Acara diawali dengan walking naratif menyusuri kawasan Pasar Papringan, dilanjutkan dialog bersama pengrajin lokal, serta praktik langsung pengolahan bambu menjadi produk kerajinan.
Tiga pelaku lokal terlibat sebagai pendamping kegiatan, yakni Sunyoto selaku pengrajin bambu, Udi Hartini sebagai penganyam, serta Deni Ariana Kusuma, pemuda penyuluh pertanian. Materi yang disampaikan mencakup sejarah bambu, jenis bambu lokal, teknik pengolahan, serta waktu panen terbaik untuk menghasilkan bahan kerajinan berkualitas.
Antusiasme peserta terlihat saat mengikuti workshop menganyam bambu di area Pasar Papringan. Di sela kegiatan, peserta juga diperkenalkan pada Wedang Pring, minuman khas berbahan daun bambu muda dan rempah, sebagai bagian dari identitas kuliner lokal.
Melalui kegiatan ini, Srawung Pring diharapkan mampu memperluas pemahaman publik terhadap budaya bambu, membuka ruang transfer pengetahuan lintas generasi, serta mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kerajinan bambu di Dusun Ngadiprono. Kegiatan ditutup dengan pembagian suvenir dan sesi foto bersama. (Rls)

