28.5 C
Tangerang Selatan
Minggu, 6 April 2025
Serpong Update
RELEASE

Diskusi Wawasan Kebangsaan : “Mahasiswa Harus Rawat Pancasila”

Rencana pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah pusat harus disikapi positif. Kendati organisasi bubar, diperkirakan ideologinya tetap hidup, oleh karena itu perlu dilakukan pembinaan.

Hal ini terungkap dalam Diskusi bertajuk “Peluang Khilafah di Bumi Pancasila, merawat Pancasila, melindungi Indonesia” yang diselenggarakan  Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuludin, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah di Aula Kopertais UIN Syarif Hidayatullah, Pisangan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa (23/05)

Salah satu peneliti Pusat Studi Nusantara Ahmad Syarif Hidayatullah  hadir sebagai narasumber menjelaskan konsep khilafah tentunya kurang sejalan dengan Pancasila.

“Jika khilafah maka kita dipaksakan terhadap hak kehidupan kita, dasar negara kita bukan  landasan agama maka khilafah akan selalu bertentangan dengan ideologi Pancasila,” katanya.

Tidak dapat dipungkiri begitu banyak anggota HTI masuk ke lingkungan sekolah menengah hingga kampus. Untuk itu Lembaga Dakwah Kampus (LDK) harus bisa diajak diskusi panjang untuk kembali kepemahaman tentang kondisi Pancasila di Indonesia ini.

“Kita harus melihat pendirian negara ini berdasarkan kebersamaan atau berdasarkan agama. Tentunya adalah pendirian negara Indonesia berdasarkan kebersamaan masyarakat yang senasib berjuang melawan penjajah saat itu,” ujar Syarif

Sebetulnya tak hanya HTI saja yang menentang konsep Pancasila namun juga banyak kelompok-kelompok kecil bermunculan. Terutama pada kampus kampus umum. Mereka pun sebetulnya saling  bertentangan dengan HTI.

“Banyak penentang Pancasila bukan hanya HTI tapi banyak kelompok kecil bermunculan. Banyak buku-buku yang membahas itu khususnya di kampus umum,” imbuhnya.

Sekjen DPP Ikatan Pesantren Indonesia Ahmad Imron menyatakan semua mahasiswa  mengajak kepada para individu HTI agar bisa memahami kondisi Indonesia sebenarnya salahsatunya melalui sejarah. Dengan perspektif sejarah khilafah tidak akan cocok.

“Indonesia adalah warisan para ulama. Karena para ulama dulu paling tahu bagaimana negara kita terbentuk dengan penuh perjuangan merebut kemerdekaan. Sangat disayangkan organisasi-organisasi yang baru muncul saat ini justru ingin merubah Pancasila dari Indonesia kita ini,” kata Imron dalam kesempatan yang sama.

“Kita harus melihat perjuangan Walisongo menyebarkan ajaran Islam yang tidak meninggalkan budaya asli Indonesia. Walisongo menggunakan budaya asli Indonesia untuk merawat ke-Islaman Nusantara. Kita harus bangga ketika dunia melihat kedamaian Islam justru di Indonesia. Untuk itu perlu kita rawat dan jaga Indonesia,” tambahnya lagi.

Imron berpendapat lebih penting mensejahterakan dan memberikan pendidikan yang baik serta mengentaskan kemiskinan bagi umat Islam dibanding tujuan mendirikan Khilafah.

“Pancasila adalah warisan para ulama yang wajib kita jaga bersama,” katanya.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Baharuddin juga menyampaikan ideologi tidak akan mati meski organisasinya mati atau bubar. Maka yang perlu dilakukan upaya saling merangkul, mengajak dakwah penuh kedamaian penuh kasih sayang.

“Ketika HTI dibubarkan apakah individu mati pasti tidak karena itu baru strukturnya saja. Maka kita perlu merangkul orang-orangnya nya,” pungkasnya. (Nto)

Berita Terkait

Leave a Comment