Serpongupdate.com – Banyak tidak tahu bahwa sebenarnya membatik adalah menggambar dengan menggabungkan titik-titik melalui tangan.Batik berasal dari kata amba nitik yang bermakna menorehkan titik-titik, pada masa itu bahan dasarnya menggunakan kain putih yang ditenun sendiri.
Sedangkan pewarna dibuat dari tumbuhan sekitar, seperti pohon mengkudu, kunyit, soga, dan nila. Serta soda terbuat dari soda abu dan garamnya dari lumpur.
Sejarah perbatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan sesudahnya. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kerajaan dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarganya.
Dalam perkembangannya kesenian batik ditiru oleh rakyat terdekat dan akhirnya meluas. Berbahan kain putih dan pewarna dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia antara lain mahoni, mengkudu, jalawe, soga, dan nila. Batik yang dihasilkan semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.
Bogor yang terkenal dengan sebutan Kota Hujan pun memiliki motif batik nya sendiri..Motif Batik Bogor terinspirasi dari sisa-sisa peninggalan Kerajaan Pakuan, benda-benda sejarah, fenomena alam, dan kebudayaan. Salah satu motif yang terkenal adalah Motif Kujang Kijang. Motif ini mengandung dua ikon kota Bogor, yaitu Kujang dan Kijang. Kujang merupakan senjata tradisional khas Sunda, sedangkan kijang merupakan hewan yang berada di Istana Bogor.
Kota Bogor mungkin lebih terkenal dengan wisata kulinernya, namun kota yang dijuluki sebagai kota Hujan ini ternyata memiliki ciri khas lain yang perlu diperkenalkan lebih luas, yaitu Batik Khas Bogor. Meski belum sepopuler batik dari Solo atau Yogyakarta, Batik Bogor memiliki motif yang tidak kalah indah. Batik Bogor ini sekilas terlihat tidak ada bedanya dengan batik lainnya, karena teknik pewarnaan dan pembuatannya memang tidak jauh berbeda dengan batik yang berasal dari daerah lain
General Manager Horison Ultima Bhuvana Ciawi Yusup Maulana dalam siaran persnya (4/10) mengatakan, Horison Ultima Bhuvana Ciawi memiliki visi dan misi mengangkat kebudayaan lokal, antara lain memperkenalkan kain yang merupakan salah satu identitas bangsa dari negara kepulauan tercinta ini, dengan membuat galeri batik di sudut lobi dari hotel.
“Hotel kami memperkenalkan keelokan kain dengan motif yang beraneka ragam. Sehingga para tamu pun bisa turut mempelajari bagaimana cara membatik langsung dari perngrajin batiknya sendiri,” pungkas Yusuf. (rls)

