Serpongupdate.com – Ribuan guru di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar Doa Bersama Aksi Damai Bela Guru Honorer di Masjid Al I’tishom Puspemkot Tangsel, Ciputat pada Sabtu, 22 September 2018.
Kegiatan yang diikuti oleh kurang lebih 4.500 guru ini dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke 73 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) 2018. Dalam kegiatan tersebut disampaikan harapan perwakilan GTT, ceramah agama dan doa bersama.
Menurut Ketua PGRI Kota Tangsel Cartam, kegiatan tersebut merupakan dorongan moril kepada guru honorer untuk bersabar menunggu kebijakan pemerintah pusat.
“Kami dari PGRI menyesalkan adanya pembatasan usia yang tahun ini maksimal 35 tahun.Jadi sampai satu sekolah ada yang tidak terbawa karena usia guru rata-rata sudah diatas 35 semua,” kata Cartam.
Selain itu, pihaknya memohon secara berantai dari ranting, cabang, kota hingga provinsi kepada PB untuk menyampaikan kepada Kemenpan, Presiden dan Kemendikbud agar regulasi ini di tinjau kembali oleh DPRD.
“Karena aturan disini tidak lagi berpihak pada guru honorer. Guru honor ini jumlahnya terbesar atau mayoritas yang ada di sekolahan bisa saja dalam sekolah guru PNS-nya ada 3 guru honorernya lebih dari 10,” ungkap Cartam.
Ia mengaku, pihaknya sudah kolaborasi kepada Dinas Pendidikan dan BKPP untuk memberikan ketenangan kepada honorer, kita tetap berusaha agar di dengar oleh pemerintah pusat.
“Tunjangan guru PNS K2 di Tangsel sudah naik. Kawan-kawan K2 di Tangsel sudah menyampaikan tidak ada masalah. Tunjangan sudah naik dari satu juta menjadi Rp 2,4 juta untuk S1. Bahkan untuk BPJS akan di tanggung pada tahun yang akan datang ini sangat luar biasa dan sudah cukup,” bebernya.
Ia mengungkapkan pada aksi tersebut para guru honorer menuntut tidak adanya pembatasan usia dan tidak adanya tes dan langsung diangkat menjadi K2 atau K1 seperti yang lalu.
“Hanya di lihat dari masa kerja sudah memenuhi dan relevan, langsung diangkat. Dulu bisa 400 lebih K2 diangkat tanpa tes hanya seleksi data saja, karena mereka sudah ada yang mengabdi selama 10 tahun ada yang 11 sampe 15 tahun,” ujar Cartam.
Sementara, Kepala Dindikbud Tangsel Taryono yang hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa pihaknya mendukung apa yang dilakukan oleh PGRI dan teman-teman Guru Tidak Tetap (GTT) Tangsel.
“Perhatian Pemkot Tangsel sangat besar karena memandang GTT adalah sumber daya yang amat penting dalam upaya membangun generasi Tangsel yang cerdas, berkualitas, dan berdaya saing,” ungkap Taryono.
Menurutnya, yang bisa dilakukan Pemkot Tangsel sesuai kewenangan tentu saja, tahun 2018 telah dinaikan honor GTT. Tahun 2019 sesuai arahan pimpinan, GTT akan diberikan BPJS Ketenagakerjaan. (rls)