Serpongupdate.com – M. Ilham Febriansyah (2) semakin lincah, tubuhnya yang kecil seperti tak mau diam. Dia nampak aktif berlarian kesana – kemari di dalam rumah sederhana milik neneknya di Jalan Bakti Jaya 5, kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Ilham memang baru dinyatakan sehat, atau naik ke kategori kurus (gizi kurang) setelah 3 bulan sebelumnya menyandang predikat kurus sekali (gizi buruk),karena berat badanya tak sesuai dengan umurnya yang kala itu menginjak usia 22 bulan pada Desember 2017.
Bayi pertama pasangan Wita Yulianti (18) dan Sahrul (20) ini, semenjak lahir memang tak menunjukkan gejala tak sehat.Lahir secara normal dengan berat badan 2,7kg dan panjang 47cm pada 26 Februari 2016 lalu, Ilham terlihat sehat, namun saja, Wita, Ibunya yang kala itu terbilang masih dibawah umur, mengaku tak mampu memberi banyak ASI sebagai satu-satunya sumber asupan sang buah hati.
Wita mengaku tak punya pilihan lain, memberikan asupan susu formula sebagai asupan pokok utama sang bayi. “Susu asi campur susu formula, memang dari awal ASI saya sedikit, engga mau keluar. Tapi lebih banyak susu formula,” bilangnya.
Selang beberapa bulan setelahnya, Wita pun memberi aneka macam makanan sesuai tahapan usia bayi yang dia tahu dari arahan orang tua dan mertua yang tinggal bersamanya. Mulai dari bubur nasi dan nasi dengan lauk seadanya coba Dia sajikan buat si buah hati, agar anak lelakinya itu kuat dan sehat.
Namun Ilham nampaknya, tak terlalu lahap menyantap makanan yang Wita olah. Hampir bisa dibilang Ilham tak memiliki selera makan yang kuat. Lambat laut, menyusutkan tubuhnya hingga terlihat sangat kurus.
Sesekali, wanita tamatan SMP ini, hanya bisa pulang ke rumah orang tuanya, di Gunung Sindur, Bogor. Itupun tak banyak membawa perubahan fisik Ilham agar terlihat lebih berisi.
Tahu anaknya kurus, Wita dan sang Suami yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual sayur keliling, pasrah. Karena keluguannya, Wita menganggap kurusnya Ilham sebagai hal biasa, yang tak akan berdampak serius pada tumbuh kembangnya.
“Kalau kemampuanya waktu bayi normal, dari mulai bisa tengkurep, merangkak, duduk itu sesuai usia Dia (Ilham), tapi memang jalannya agak lambat, sekarang lagi belajar ngoceh,” kata Wita.
Untungnya ada kader kesehatan dari Posyandu setempat, yang melaporkan temuan tersebut, ke Puskesmas Bakti Jaya. Tepatnya di bulan Desember 2017, waktu itu, Ilham baru berusia 22 Bulan. Diketahui kader Posyandu, bahwa berat badanya tak sesuai dengan usianya.
Setelah dibujuk rayu dan diberikan pemahaman mengenai kesehatan balita. Wita akhirnya mengerti dan mau menuruti nasihat kader kesehatan dari Puskesmas Bakti Jaya.
Dari pemahaman itu, perlahan dia mencoba mengaplikasikan untuk pola asuh dan pola asupan terhadap Ilham, dengan mengenalkan aneka makanan sehat dan sederhana yang coba dia buat sendiri.“Rumah saya akhirnya didatangi orang dari puskesmas, dibilang anak saya gizi buruk, lalu saya diajarkan macem-macem. Intinya agar anak saya tak terlalu kurus, harus begini, dikasih makan ini, jangan kasih yang ini, Tadinya saya kira wajar saja, karena Ibunya juga kurus,” terang Wita.
Istri dari Sahrul ini mengaku tak mengerti banyak soal cara yang benar mengasuh dan memberi makan anak Balitanya. Setiap harinya, Wita hanya berfikir untuk memberikan Ilham susu formula yang cukup dan masakan sebisa mertuanya mengolah masakan yang ada.
Lain cerita dengan Siti Fatihah, balita berusia 27 bulan ini pun mengalami kondisi serupa, namun karena tak ada yang mengasuhnya secara intensif, Siti Fatihah terpaksa mengikuti kegiatan harian sang Bunda yang setiap hari berjualan kue keliling kampung.
Jerat kemiskinan dan persoalan rumah tangga yang mendera Turinah (38), membuatnya semakin kuat. Dia berjuang seorang diri membesarkan ketiga anaknya, Aris Saputra (12), Suci Silviani (8) dan Siti Fatihah (2). “Bapaknya sudah 2 tahun engga pulang, saya dengar sudah menikah lagi,” ucap dia ikhlas.
Demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Turinah terpaksa berjualan kue keliling setiap pagi. Dari pukul 05.30 WIB sampai 11.00 WIB dia lakoni.
Usahanya sebagai penjaja makanan pengganti sarapan sangat pas-pasan, baru sekedar mencukupi biaya sewa rumah dan kebutuhan hidup bersama tiga orang anaknya.“Sehari paling ngantongin Rp 50 sampai 60 ribu, sisanya setoran buat yang punya kue, itu saya ambil dari bos. Bayar kontrakan Rp 550 ribu sebulan, belum listrik dan lain-lain,” kata dia
Mirisnya jerat kemiskinan Ibu asal Brebes, Jawa Tengah ini membuat putri sulungnya terlantar, kalau bahasa halusnya disebut, kurang kasih sayang dan salah asuh.
Betapa tidak, Siti Fatihah, balita berusia 27 bulan itu sudah sejak berusia 4 bulan merasakan perihnya berjualan keliling kampung dengan sepeda yang dikayuh ibunya.
Panas-hujan, bukan halangan buat Siti menemani sang Ibu berjualan. Hal ini dilakukan karena Turinah tak lagi memiliki pilihan, selain mengajak si bungsu berjibaku di tengah terik dan guyuran hujan mengais rupiah. “Keluarga saya harus makan, kakak-kakanya juga harus sekolah. Saya tidak punya pilihan, kalau balik ke kampung mau ngapain juga. Jadi terpaksa Ini (Siti Fatihah) saya ajak berjualan,” ucap dia.
Setiap hari, Siti yang baru genap berusia 27 bulan itu, tak lepas dari kain bercorak yang digunakan Turinah untuk menggendongnya.Saat bayi-bayi lain masih terlelap, selepas Subuh, Siti disamping pundak Turina bergegas ke rumah pemilik kue untuk mengambil kue yang akan dipasarkan ke para pelangganya.
Selanjutnya, Turina bersama Siti keliling kampung, menjajakan makanan kecil yang dia bawa. “Macam-macam, ada lontong, gorengan, kue-kue kecil buat sarapan,” katanya.
Saking sibuknya mememuhi harapan keluarganya, Turinah seakan lupa bahwa anak ketiganya yang masih balita juga perlu dicukupi asupan dan pengasuhannya dengan baik.“Saya bukan sengaja biar orang-orang iba, karena engga ada yang asuh. Mau engga mau anak ini saya ajak berjualan,” katanya.
Turina bukan tak mengetahui ada gangguan kesehatan serius yang dialami Siti, namun karena kemiskinanan dan tuntutan hidup, dia seolah hanya bisa pasrah menghadapi sakit yang kerap menimpa Siti.
Sejak usia 6 bulan, Siti kala itu, harus mendapat pengobatan serius di Rumah Sakit. Akibat diare akut yang dia derita.Sembuh dari sakit, pun tak ada pilihan bagi Turina, untuk bisa fokus hanya mengasuh Siti. Sampai usia 12 bulan Siti kembali masuk rumah sakit, kali itu, lantaran Siti mengalami demam tinggi dan penyakit campak yang dia derita.
Sampai petugas rumah sakit meminta Turina memeriksakan rutin Siti ke Posyandu. Tapi karena tak ada waktu dan sibuk dengan rutinitas jualannya, Turina seolah dipaksa tak punya kesempatan untuk memberi perhatian lebih terhadap kondisi si bungsu.
Sampai kemudian ada kewajiban vaksinasi Difteri, karena kader kesehatan Posyandu saat itu berkeliling dari rumah ke rumah. Sehingga terpaksa Turina mengajak anaknya periksa kesehatan setelah dirayu petugas. “Sampai sekarang sudah 3 bulan Siti Fatihah diawasi petugas dari Puskesmas, biasanya kalau saya lupa periksa, orang Puskesmas yang datang ke rumah,” ucap dia.
Selain makanan tambahan (PMT) yang diberikan rutin setiap bulan, pemeriksaan kesehatan dan berat badan Siti, Turina juga kerap mendapat wejangan dari pihak Puskesmas untuk mengatur kesehatan anak-anak terutama sang Bayi.
Kini Siti Fatihah, pun menunjukkan perkembangan fisiknya lebih baik, dari sebelumnya hanya seberat 5 kg pada usia 22 bulan kini menjadi 8,9 Kg di usianya ke-27 bulan. (ccp)