Serpongupdate.com – Waktu saat itu menunjukan hampir pukul 1 dini hari. Meski malam kian larut, warung uli bakar yang berada di Pasar Ciputat masih terlihat beberapa orang paruh baya terlihat asik mengobrol sambil menyeruput segelas kopi.
Uli Bakar Ciputat namanya. Sudah ada sejak tahun 1981 lalu hingga kini, rasa uli bakar yang ditaburi gula pasir dan bubuk serundeng kelapa tidak berubah. Uli bakar yang terbuat dari beras ketan yang dipanggang di atas bara ini menimbulkan aroma khas tersendiri.
Bagi mereka, yang sebagian besar pembeli setia. Dari menikmati sepotong uli bakar dengan segelas kopi, sudah banyak cerita sedih, seram, senang, gosip, bahkan politik menjadi pemandangan tersendiri lewat obrolan.
“Kebanyakan yang datang kesini, orang-orang lama yang memang sudah kenal saat kami mulai berjualan di depan Masjid Al Jihad, sekitar dua ratus meter dari tempat sekarang,” ujar Ujang, pria berusia 28 tahun saat mengawali obrolan malam itu diawal tahun 2018.
Meski ada sejak tahun 1981. Ujang baru 11 tahun menemani sang ayah untuk berjualan uli bakar. “Ayah sudah sepuh, umurnya sudah 71 tahun. Tapi kekeh masih saja mau jualan uli bakar,” ucap Ujang lirih, yang sudah sering menyuruh ayahnya berhenti.
Obrolan terus mengalir di antara kami. Tidak terasa dua potong uli bakar dan segelas kopi hitam hampir habis. Harus diakui uli bakar ini terasa gurih dan mengeluarkan aroma khas, yang membuat uli bakar memiliki legenda sendiri untuk panganan yang murah dengan banyak cerita dibalik sepotong uli bakar.
Untuk melengkapi uli bakar, Ujang juga menyediakan kopi susu, es kopi susu, teh manis panas, roti bakar dan mie instan . Harga uli bakar per potong dibandrol Rp 2 ribu, kopi susu Rp 4 ribu dan roti bakar Rp 5 ribu.
“Selain uli bakar, mie instan bisa juga dipesan,” kata Ujang yang tetap setia berjualan uli bakar, meski setiap tahun penghasilannya berkurang.
Diakui Ujang, dulu dalam satu malam warungnya bisa menghabiskan 12 liter ketan, 2 dus mie instan dan 5 bantal roti tawar. Tapi sekarang, setiap hari hanya mampu menghabiskan 6 liter ketan dan 1 dus mie instan.
“Tempo hari penghasilan pun cukup banyak. Namun tantangan juga berat, sebab hampir setiap malam, menjelang pagi pukul 3 dini hari, banyak orang mabok.Makan dan minum pergi tanpa bayar,” kisah Ujang yang bersyukur kejadian itu sudah tidak ada lagi.
Sesekali terlihat Ujang menerawang sambil mengipas uli bakar di atas tungku bara, rasanya ingin kembali pada masa lalu. Saat mengingat semangat berdagang dengan penghasilan cukup lumayan. Jika dibandingkan saat ini, jelas jauh berbeda.
“Seingat saya, dagang mulai kendor, sejak uli bakar naik, dari harga Rp 500 menjadi seribu dan sekarang sudah Rp 2 ribu per potong. Sejak itulah banyak pelanggan yang ngeluh. Jika tidak dinaikkan, tentu tidak dapat untung , sementara harga ketan per liter sudah Rp 20 ribu,” ujar Ujang yang mengaku berat harus membayar uang sewa 7 juta rupiah pertahun.
Meski saat ini lebih tenang, tidak bersingungan dengan Satpol PP. Lokasi uli bakar berada di belakang pedagang buah atau persis bersebrangan dengan pintu masuk Masjid Al Mujahidin Ciputat. Meski tidak ada papan nama, Uli Bakar Ciputat sudah melegenda sendiri dengan menyimpan banyak cerita di balik sepotong uli bakar. (din/sbr)